Selasa, 09 April 2019

WAY, bagaimana kau menghargai jalanmu


Setiap orang diberikan pilihan jalannya masing-masing. Pilihan itu yang nantinya menentukan di mana ia akan berpijak. Bagaimana denganmu? Pilihan apa yang dulu pernah kau ambil sehingga kau mampu berdiri di tempatmu sekarang? Menyesalkah kau?
Ah, menyesal hanya ada dalam hidup orang-orang yang diselimuti putus asa. Kita telah dihadapkan kepada pilihan, dan kita harusnya juga tau konsekuensi dari pikihan itu. Jadi, masih mau menyesal?
Janganlah menyesal. Lihat, berapa banyak hikmah yang bisa kau ambil dari keputusan yang telah kau pilih. Sudah bisa lihat hikmahnya? Belum kah? Sebenarnya ketika kita tidak mampu untuk melihat bahkan mengambil hikmah dari keputusan kita, mungkin kita kurang ridha. Kita belum bisa menerima diri kita sendiri dengan keadaannya.
Cobalah mulai menerima diri. Aku pun pernah merasakan pahitnya keputusan yang aku ambil. Curhat yaa.. Dulu aku SMP di sekolah yang lumayan favorit di daerahku, aku lulus dengan nilai UN yang lumayan baik dan lumayan mudah untuk mendaftar di SMK yang aku impikan. Namun, aku terlalu pengecut. Ketika tidak ada teman yang ku kenal sekolah di sana, aku tidak berani sekolah di sana, aku takut sendirian, tidak punya teman. Aku menjadi malas untuk melihat sekolah lain yang lebih dekat. Singkat cerita, aku sekolah di SMK Muhammadiyah dekat dengan tempat tinggalku. Mungkinkah ini sebuah kutukan karena sewaktu SMP aku pernah berkata tidak akan bersekolah di SMA/K yang notabenenya islam, karena harus mempelajari agama lebih dalam dan banyak hafalannya. Ah, lupakan kemungkinan kutukan itu.
Di kelas aku bertemu seseorang yang juga kehilangan mimpinya karena pengumuman nilai UN yang diundur, sehingga pendaftaran sekolah impiannya sudah ditutup sedangkan nilai UN belum keluar. Seperti halnya aku, dia sudah malas melihat sekolah favorit lainnya. Dan kami terperangkap di sana.
Terperangkap? Itu yang aku rasakan tiga tahun bersekolah. Sistem sekolah baru, lingkungan baru, dan aku harus beradaptasi. Pernah beberapa kali aku bertemu sosok guru sebenarnya, beliau guru SMP ku, berpesan semua sekolah itu sama, tapi saat itu aku menolak kata-katanya dalam hati. Aku tidak cocok dengan sekolah ini, aku tidak ingin di sini, batinku.
Seringkali aku menangis di malam hari ketika mengingat sang guru dan mimpi-mimpiku. Terasa tidak adil, tapi ini juga karena salahku. Dan aku juga telah mengecewakan orang tuaku, menunda mereka bangga kepadaku.
Tapi, tanpa sadar, walau banyak hal negatif yang mungkin masuk dalam diriku. Aku merasa karakter yang terbentuk di SMP sudah melekat dan menjadi dasar dari hidupku, jadi aku mampu mengambil banyak hal positif dan mengabaikan banyak hal negatif di SMK.
Mungkin ketika aku tidak bersekolah di situ aku akan menjadi seseorang yang angkuh, sangat minim pengetahuan agama, dan tidak mendapat pelajaran berharga tentang menerima takdir.
Sekarang, rasa penyesalan itu memang masih ada. Tapi sedikit demi sedikit berkurang, karena aku mencoba menerima diriku. Masih bisa nangis memang kalau lihat foto sang guru dan ingat masa itu, mimpi yang hilang itu. Tapi, mungkin hal ini yang menjadi pondasi agar aku tetap berdiri dan berlari mengejar mimpiku yang lain. Agar orang tuaku bisa tersenyum bangga.
Aku tau, aku paham, Allah sudah menyiapkan skenario terbaik-Nya. Apa pun keputusan yang kita ambil, selama itu tidak menyimpang dari agama. Maka, teguhkanlah keputusan itu. Berusahalah tidak menyesal. Fokus pada mimpi dan tujuan barumu. Tetapkan target, visi, kemudian buat misi dan tentukan bahwa SEKARANGlah waktu eksekusi misimu. Semakin cepat eksekusi, semakin cepat pula targetmu tercapai. Jadikan rintangan sebagai nasihat. Jangan mengeluh, jangan menyerah, tetap berusaha, kemudian serahkan pada Sang Pencipta, karena Dia yang menentukan. :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar